Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan

..:: Hari Spesial km Idul Adha dan Idul Fitri ::..

Bismillah...

TAHUN BARU BUKAN SESUATU YANG SPESIAL

Yang Spesial, bukan Jam 12 malam.. tapi 1/3 MALAM TERAKHIR
Yang Hebat, bukan menunggu detik-detik pergantian malam.. tapi MENUNGGU ADZAN SUBUH
Yang Super, bukan begadang berpesta lalu tidur.. tapi TIDUR LEBIH AWAL dan BANGUN LEBIH AWAL  
Yang Membahagiakan, bukan menghamburkan harta dengan pesta pora.. tapi SEDEKAH DIPAGI HARI DAN DIRUTINKAN SETIAP HARI 
Yang Menjayakan, bukan ikut dikeramaian acara tahun baru.. tapi BERJAMAAH SUBUH
Yang Luar Biasa, bukan mendeklarasikan harapan saat kembang api memuncak.. tapi saat ALLAH turun ke langit bumi dan kita bisa memanjatkan doa pada-Nya. 


sumber: https://goo.gl/RtCTPd

..:: Dear Kotak Kotak Dua ::..

Bismillah...

Dear Muslim Berbaju Kotak Kotak...
Rasul mulia pernah bersabda, Fa Innaka ma'a man ahbabta, Maka sesungguhnya seorang bersama orang yang dicintainya (di akhirat). Setelah berharap bersama Rasulullah, para sahabat dan ulama shalafussolih, kamipun berharap di akhirat kelak bersama ulama-ulama hanif negeri ini yang kami bela dan kami cintai. Buat kalian, apakah sudah siap bersama jagoan kalian di akhirat kelak ???
Dear Muslim Berbaju Kotak Kotak...
Kalian pasti tau ayat "Watawashaubil haqqi wa tawa shaubissobr", ya...itulah tugas saudara seiman, menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, jika anda terima Alhamdulillah, jika anda abaikan maka urusan kami selesai, tinggallah anda berurusan dengan Tuhan.
Dear Muslim Berbaju Kotak Kotak...
Jagoan anda itu kelewat arogan, mungkin jika dia santun, resistensi tak akan sebesar ini. Jika jutaan muslim negeri ini begitu membencinya, pasti dia memang bukan orang yang "beres". Dengan begitu banyak noda hitam, masihkah kalian membelanya mati-matian?
Dear Muslim Berbaju Kotak Kotak...
Satu hal yang bisa saya dan jutaan orang pastikan adalah... jagoan anda itu tidak bisa mengendalikan mulutnya. Jangankan rakyat miskin di pinggiran kota, ulama besar saja dia rendahkan, percakapan mantan presiden pun bisa dia dapatkan, terlebih Al-Qur'an dia nistakan, jutaan muslim peserta aksi disebut orang bayaran, dan sekarang dia dan kroni pun ikut menuduh Tuhan
Dear Muslim Berbaju Kotak Kotak...
Baiklah, jika kalian tidak bisa diyakinkan melalui firman Tuhan, mari kita lihat jagoan anda yang kalian bela mati-matian. Apakah dia profesional, kapabel ? Mungkin saja demikian ( menurut kalian )...tapi apakah dia bersih, jujur, bebas korupsi? Silahkan saja, apakah anda lebih percaya mulutnya ataukah BPK negeri ini yang kredibilitasnya diakui dunia ? Belum lagi masalah reklamasi, penggusuran paksa disana-sini
Dear Muslim Berbaju Kotak Kotak...
Dalam Al-Qur'an ada belasan ayat tentang larangan bagi seorang muslim memilih pemimpin dari kalangan non muslim, terserah mau kalian artikan kata awliya itu sebagai pemimpin atau teman dekat, namun jumhur ulama sepakat, awliya adalah seseorang yang mengurusi hajat hidup orang banyak...jadi tidak mungkin mayoritas orang beriman menyerahkan hajat hidupnya kepada yang tidak seiman
Dear Muslim Berbaju Kotak Kotak...
Kalian adalah saudara kami, saudara seiman dan seaqidah, kami wajib mengingatkan...sebagai bentuk kasih sayang dan perhatian. Bukankah muslim itu bagaikan satu badan ???
Dear Muslim Berbaju Kotak Kotak...
Sekian surat cinta dari saya...Mohon maaf, kalian tak perlu mendebat saya jika tidak berkenan, seperti kata Aa Gym, saya tidak ingin berdebat dengan Anda yang mendukung mereka, apalagi jika anda orang Islam. Bagaimana saya bisa meyakinkan Anda, sedangkan Firman Allah saja anda tidak yakini dan Anda abaikan


source: http://lb.cm/kotakkotak

..:: Hai Umat Islam ::..

Bismillah...

Salah satu kesalahan umat Islam sejak dulu adalah polos, buta politik, bahkan alergi dan menarik diri dari politik.

Ini adalah warisan konstruksi berpikir kolonial, disetting:

- politik itu urusan orang kulit putih,
- bisnis itu urusan etnis Cina, sedangkan
- pribumi ya jadi petani, pegawai, atau buruh.

Padahal kebijakan yang mengatur arah kehidupan berbangsa dan bernegara ditentukan melalui mekanisme politik. Coba lihat betapa dahsyatnya permainan politik dan dampaknya. Dampak tersebut menjadi berkali lipat lebih luar biasa karena politik pasti berjalin-berkelindan dengan media.

Seorang Jokowi dalam waktu sangat singkat bisa naik dari *Walikota* Solo, jadi *Gubernur DKI*, lalu jadi *Presiden*. Hampir tidak ada yang mempersoalkan bahwa beliau *tidak pernah* menyelesaikan masa jabatannya sebagai Walikota dan Gubernur dengan baik.

Paralel dengan itu, seorang Ahok bisa melesat dari *Bupati* Belitung Timur menjadi *Wagub DKI*, dan kemudian jadi *Gubernur* di Ibu Kota Negara.

Banyak umat Islam dengan polos melihat *dua fenomena di atas sebagai kebetulan*. Padahal orang yang belajar politik sedikit saja pasti paham, *tidak ada kebetulan dalam politik*. Selalu ada agenda, *strategi dan skenario di balik setiap peristiwa*. Selalu ada _master mind_ di belakang itu semua.

Bahkan selalu ada *penyandang dana* yang berkepentingan memastikan bahwa dampak peristiwa poltik tersebut memberikan _benefit_ yang lebih besar ketimbang _cost_ yang dikeluarkan.

Sama naifnya kalau kita menganggap bahwa kebetulan Ade Komarudin menggantikan Setya Novanto yang terjerat kasus korupsi sebagai Ketua DPR RI. Lalu Setya Novanto, yang saat berkunjung ke AS hadir di kampanye Donald Trump, malah terpilih jadi Ketum Golkar. Apa mungkin Setya Novanto bisa jadi pucuk pimpinan Partai Beringin tanpa campur tangan Ical? Oh ya, jangan lupa, Donald Trump adalah kandidat Presiden AS yang terkenal *sangat anti Islam*. Salah satu gagasan dalam kampanyenya adalah *melarang masuknya muslim ke negara Paman Sam*.

Cerita tidak berhenti di situ. Tak lama setelah Setya Novanto jadi bos Golkar, partai warisan Orba ini langsung menyatakan dukungan kepada Ahok untuk kembali menjadi DKI Satu, menyusul Nasdem dan Hanura yang sudah lebih dahulu menyorongkan dukungan.

Kelanjutannya kita semua sudah mahfum. Tindakan Ahok menggusur ribuan warga marjinal di Jakarta *tidak pernah disorot media*. Demikian pula dugaan korupsi dalam kasus pembelian lahan RS Sumber Waras *tidak 'dikuliti' dengan antusias oleh para jurnalis*.

Sebaliknya, kasus kecil razia Satpol PP terhadap seorang pedagang di Serang yang membuka warung disiang hari bulan Ramadhan diblow-up media dengan gegap gempita, dengan _angle_ yang *menyudutkan umat Islam*. Padahal Satpol PP hanya menegakkan Perda yang sudah bertahun-tahun berlaku di Serang, sebuah wilayah dengan 95% warga muslim. Kacaunya, Presiden dengan sangat patriotik menyumbang 10 juta untuk si pedagang. Bahkan para netizen menggalang dana hingga 130 juta sebagai wujud simpati.

Mengapa misalnya Jokowi tidak menyumbang dan para netizen tidak menggalang dana simpati yang sedemikian signifikan untuk para korban penggusuran Ahok? Apakah karena para warga marjinal itu melanggar Perda mengenai tata ruang sebagaimana selama ini didalihkan Ahok? Kalau begitu sama saja _bro_! Pedagang di Serang itu dirazia Satpol PP karena melanggar Perda yang mengatur jam buka gerai makanan selama Ramadhan.

Coba tengok bagaimana gegap gempitanya pemberitaan bahwa KPK menyatakan kasus RS Sumber Waras *bebas* dari korupsi, padahal BPK sebelumnya nyata-nyata mengindikasikan *kerugian negara* ratusan milyar dalam kasus ini.

Sebaliknya, rentetan penggusuran yang dilakukan Ahok *sepi-sepi saja di media*. Kok bisa? Kebetulan? Pastinya tidak. Silakan lihat *siapa BOS BESAR di balik media-media kita*.

Jadi kalau kita melihat banyak Perda *bernuansa syariah dilucuti oleh rejim Jokowi*, itu _mah_ lumrah. Justru aneh kalau tidak begitu. Mungkin masih banyak yang belum _ngeh_ bahwa *partainya Pak Jokowi ngotot mengubah isi UU Perkawinan tahun 1974 yang tidak merestui perkawinan beda agama*.

Partai tersebut juga berupaya menghilang ketentuan dalam UU Pendidikan Nasional yang mengharuskan sekolah menyediakan *guru agama yang seagama dengan anak didiknya*. Bahkan partai yang sama berada di barisan terdepan *penentang UU Anti Pornografi*.

Satu lagi. Di samping polos dan kurang melek politik, sebagian umat ini juga *kurang tajam logikanya*, sehingga mudah dijebak oleh kerancuan berpikir yang dihembuskan para politisi. Misalnya, Ahok kerap mengatakan, pilih mana antara pemimpin muslim tapi korup, atau pemimpin kafir tapi tidak korup. _Duh_, itu _fallacy of comparison_ namanya. *Kita dipaksa memilih dua pilihan yang keduanya salah*. Kita dibutakan sedemian rupa seolah tidak ada pilihan yang lain. Padahal, belum tentu saat ini pemimpin kafir yang tidak korup itu benar-benar ada. Padahal, belum tentu pemimpin kafir yang bicara begitu - _which is_ Ahok sendiri - benar-benar tidak korup. Padahal, banyak pemimpin muslim yang tidak korup.

*Jadi masih tetap mau polos dan apolitis? (anti politik)*

Yuk kita belajar melek politik,
semoga Allah lindungi indonesia dr org2 yg dzolim

source:
DR. ARIEF MUNANDAR
youtube:
https://www.youtube.com/watch?v=gNv0-gCTch4

..:: Logika 4 November ::..

Bismillah...

Hari ini tepat, 4 November 2016, pesan moral buat saya sendiri:
Jagalah Mulutmu, Jagalah Sikapmu karena itu lebih tajam dari PISAU
Semua ummat bersatu, semua golongan Islam bersatu, mereka bersatu karena Allah dan Rosulnya (Mukzizat, Quran), bahkan Propokator pun bersatu (tapi propokator lebih kepada membuat kegaduhan dan kericuhan).

“Dibohongin pakai surat Al Maidah 51 macam-macam"

Sengaja saya fokuskan pada kalimat yang menimbulkan polemik ini. Saya sudah melihat keseluruhan video, dan memang masalahnya ada pada frasa ini.

Terjemahan versi sebagian besar orang: Pak Basuki menistakan surat Al Maidah. Al Maidah 51 dibilang bohong oleh Pak Basuki.

Terjemahan versi pembela Pak Basuki: Pak Basuki tidak menistakan Al Maidah 51. Dia menyoroti orang yang membawa surat Al Maidah 51 untuk berbohong.

Mari kita bedah dengan kepala dingin. Jika kita ubah kalimat di atas dengan struktur yang lengkap maka akan menjadi seperti ini:

Anda dibohongin orang pakai surat Al Maidah 51” – Ini adalah kalimat pasif.

Anda: Subjek
Dibohongin: Predikat
Orang: Objek
Pakai surat Al Maidah 51: Keterangan Alat

Dengan struktur kalimat seperti ini, jelas yang disasar dalam kalimat Pak Basuki adalah OBJEK nya. Yaitu " orang " . Dalam hal ini orang yang menggunakan surat Al Maidah 51.

Karena Surat Al Maidah 51 di sini hanya sebagai keterangan alat yang sifatnya NETRAL. Saya analogikan dengan struktur kalimat yang sama seperti ini :

Anda dipukul orang pakai penggaris” 

Struktur kalimat di atas sama, yaitu : SPOK . Jenis kalimat pasif. Objek ada pada orang. Sedangkan penggaris merupakan keterangan alat yang bersifat netral.

Di sini menariknya...

Penggaris memang bersifat netral. Bisa dipakai menggaris, memukul dan yang lainnya tergantung predikatnya. Yang menentukan apakah si penggaris ini fungsinya menjadi positif atau negatif adalah predikatnya.

Nah masalahnya adalah apakah Surat Al Maidah 51 bisa digunakan sebagai alat untuk berbohong?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bohong/bo·hong/ berarti tidak sesuai dengan hal (keadaan dan sebagainya) yang sebenarnya; dusta:

Dan inilah arti dari surat Al Maidah 51 tersebut : 
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Makna dari surat Al Maidah 51 tersebut sudah sangat jelas. Bukan kalimat bersayap yang bisa dimultitafsirkan. Tanpa dibacakan oleh orang lain, seseorang yang membaca langsung Surat Al Maidah 51 pun mampu memahami artinya.

Kesimpulan saya, dengan makna sejelas ini surat Al Maidah 51 TIDAK BISA DIJADIKAN ALAT UNTUK BERBOHONG. Jadi ketika Pak Basuki berkata dengan kalimat seperti itu, sudah pasti dia menyakiti umat islam karena menempatkan Al Maidah 51 sebagai “Keterangan Alat” yang didahului oleh predikat bohong. Menempelkan sesuatu yang suci dengan sebuah kata negatif,
ITULAH KESALAHANNYAH!.

Sebuah logika yang sama dengan kasus seperti ini :

Seseorang Ustadz menghimbau jamaahnya : 
Jangan makan babi, Allah mengharamkannya dalam Surat Al Maidah ayat 3”.

Pedagang babi lalu komplain. “Anda jangan mau dibohongi Ustadz pake Surat Al Maidah Ayat 3″.

atau

Seseorang Ustadz menghimbau jamaahnya,
" Al Quran mengharamkan khamr dan judi dalam Surat Al Maidah ayat 90. "

Bandar judi dan produsen vodka pun protes, 
" Anda jangan mau dibohongi Ustadz pakai Surat Al Maidah Ayat 90. "

Jika Anda sudah membaca arti Surat Al Maidah Ayat 3 dan 90 , mana yang akan Anda percaya? Ustadz yang memberitahu Anda atau Pedagang Babi, Khamr, dan Bandar Judinya?

Itu pilihan Anda. Namun sebagai orang yang mengaku muslim, jika Al Qur’an dan As Sunnah tidak menjadi pegangan utama kita, apakah kita masih layak menyebut diri kita muslim?

Catatan sebagai Saksi di akhirat Kelak.

source: facebook.com